| Tim Mapala Unand |
Lumayan capek sich,,, setelah 5 jam perjalanan dari kota Padang dengan ongkos Rp. 30.000,-/orang, hingga bus berhenti di pasar Ujung Gading. Dari sini perjalanan kami belum berakhir. Masih harus kami lanjutkan dengan dengan sebuah minibus yang berangkat 2 kali sehari yaitu pada pukul 7 pagi dan 5 sore. Menuju desa terakhir atau titik star pendakian gunung Malintang harus ditempuh dalam waktu 1 jam dengan ongkos Rp. 10.000,-/orang.
Waktu 60 menit terasa begitu singkat, disepanjang jalan dihiasi asrinya alam pedesaan. Jalan penghubung Ujung Gading dengan desa Robajulu ini memiliki daya tarik tersendiri. Kadang-kadang semak di pinggir jalan menerobos masuk dari jendela bus, bahkan tak jarang dahan-dahan kecil iseng menyentuh permukaan kulit kami. Dan yang tak kalah seru adalah ketika bus berpapasan. Bus yang kami tumpangi agak menepi, membuat wangi dedaunan semakin sedap untuk dinikmati. Sungguh suasana eksotis yang jarang ditemui.
Ahh….. sejam sudah. Sambutan hangat pak Syukur dan keluarganya menyambut kedatangan kami, sebag ian kami yang untuk kedua kalinya kesini, teringat akan masa satu setengah tahun silam. Saat akan membuka jalur wisata gunung Malintang ( 1983,3 mdpl ) tepatnya Agustus 2007. Kumpulan anak-anak yang melihat gedenya ransel yang kami bawa dengan senyum lucunya, semakin memompa semangat kami untuk membuka dan menemukan misteri Danau Tingga.
Pak Syukur adalah kepala desa Robajulu yang antusias dengan misi kami. Keramahan beliau membuat kami menemukan keluarga baru di desa kecil nan asri nun jauh di pinggir Propinsi Sumatera Barat, yang mempunyai ketinggian 400 mdpl ini.
Cerita mengalir, dimulai dari perkenalan diri karena tim ekspedisi baru pertama kali kesini. Kecuali, sang pengiring yang memang telah membuka jalur menuju puncak gunung Malintang. Kisah-kisah saat membuka jalur hingga puncak Malintang dulu semakin seru untuk di bahas. Akhirnya kami tahu bahwa jalur yang telah dibuka dulu telah dilewati beberapa kali. Menurut kabar yang kami dapat dari pak Syukur, lebih kurang tiga bulan lalu setelah jalur sampai top (puncak) kami rintis, penduduk yang tidak percaya akan keberhasilan kami menemukan pilar primer (penanda ketinggian utama) dengan no P.41, dan awal tahun ini 8 orang personil Mapala Proklamator membuktikan betapa indahnya pemandangan yang di tawarkan oleh gunung ini.
Pagi menyapa kemolekan desa Robajulu, aktifitas pagi haripun dijalankan. Namun, perjalanan kami baru bisa dimulai siang nanti setelah kaum Adam menunaikan ibadah shalat Jumat. Pukul 13.44 WIB, setelah berpamitan dengan keluarga Pak Syukur dan penduduk setempat, perjalanan menuntaskan misi untuk membuka tabir misteri yang menurut legenda penduduk setempat bahwa ada sebuah laut nun jauh di dalam rimba, yang mereka sebut Laut Tingga. Tapi dari peta itulah yang diisebut Danau Tingga. Tekat kami sudah bulat. Terik mentari menjadi baterai bagi sendi-sendi tubuh kami. Keinginan untuk membuktikan bahwa Danau Tingga itu benar-benar ada semakin memuncak.
Tatapan dan senyum lucu anak-anak mengantarkan tapak demi tapak anggota tim yang berjumlah lima orang. Personil MAPALA UNAND yang terdiri dari tiga orang Anggota Muda (dua laki-laki dan satu perempuan) sebagai tim ekspidisi, dan dua orang Anggota Penuh MAPALA UNAND (satu laki-laki dan satu perempuan) sebagai pengiring tim ekspedisi untuk mencapai targetnya.
Meninggalkan desa, suasana jalan yang kami lalui memanjakan mata pecandu keindahan. Barisan rapi kebun Karet memberi suasana yang berbeda. Di penghujung kebun Karet disambut oleh tanaman Sawit yang berdiri dengan gagah, kemudian disambung tanaman Kakao. Pada ketinggian ± 500 mdpl, mata dihadapkan pada hamparan rumput yang berbukit-bukit yang pada musimnya dimanfaatkan oleh penduduk untuk yang berladang Padi. Barisan rapi pohon-pohon sama rata di pinggir ladang menjadi pemandangan unik yang mengantarkan kami meninggalkan peradaban menuju hutan perawan yang jarang dijamah manusia. Tak terasa 4 jam perjalanan, gemuruh aliran Batang Sikabau menyambut kedatangan kami. Berhubung sudah pukul 17.45 WIB kami memutuskan mendirikan camp pada bekas camp pembuat jalur terdahulu. Menikmati suasana di tepi aliran sungai sambil mengumpulkan energi untuk perjalanan esok hari.
Malam berlalu. Secangkir susu panas dan sepotong roti bakar isi Kacang Padi menjadi menu sarapan kami pagi ini. Setelah mem-packing semua perlengkapan, kami melanjutkan perjalanan. Setelah Batang Sikabau, kami kembali menyeberangi sungai yang disebut Sungai Jantan yang juga akan menjadi guide (pemandu) kami nantinya selain penanda jalur yang sudah ada. Memasuki rimba belantara, kondisi medanpun bervariasi. Dimulai dengan permukaan landai, kemudian mendaki, begitu seterusnya hingga cacing di perut kami berontak minta makan.
Kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang pada ketinggian 1100 mdpl yang merupakan camp tim ekspedisi Anggota Muda MAPALA UNAND tahun 2007 silam. Konon kabarnya, tempat ini dinamai dengan Camp Was-was.
Perut telah berisi tenaga pulih kembali. Jalan yang akan dilewati tampak semakin jelas, walaupun medan yang kami lewati sama dengan sebelumnya. Permukaan landai dan pada perpindahan punggungan ke punggungan berikutnya agak sedikit tejal, kemudian landai lagi, begitu seterusnya. Pada ketinggian ± 1500 mdpl kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Masih pada bekas lokasi camp perintis jalur sebelumnya dengan gemuruh air terjun disisi kanan jadi pilihan bijak kami untuk beristirahat malam ini.
Alam yang cerah ditemani cahaya rembulan dengan kerlip bintang, menjadikan tempat ini jadi posisi nyaman untuk melepas kepenatan siang hari. Sama seperti malam berikutnya, pada malam ke-2 di hutan ini. Setelah briefing untuk mengevaluasi kegiatan seharian dan menyusun pergerakan esok harinya. Nyanyian binatang malam mengantarkan tidur kami terbang dibuai mimpi.
Hari ini perjalanan melewati rapatnya pepohonan dengan tarian Pacet yang sering kami buat mabuk dengan seduhan air tembakau, telah kami tinggalkan. Hari ini (Minggu, 15 Februari 2009) kondisi medan yang kami lewati mulai agak terjal dengan vegetasi tumbuhan Rotan yang begitu rapat. Hingga ketinggian ± 1800 mdpl vegetasi hutanpun mulai berubah, berganti dengan pohon-pohon yang mulai diselimuti hutan Lumut dan medan mulai agak landai.
Menjelang puncak, beberapa kali kami harus melewati medan terjal yang memiliki ketinggian 5-8 m dengan bantuan akar-akar serta tumbuhan sekitarnya untuk dapat naik. Salah seorang dari kami berseru “ inilah pertualangan”!, jenis pendakiannya sudah termasuk dalam kategori scrambling (pendakian pada tebing yang tidak begitu curam, kadang-kadang tangan dibutuhkan untuk keseimbangan sedangkan bagi pemula kadang-kadang tali harus dipasang untuk pengaman) saking terobsesi dengan ilmu mounteneering.
Alhamdulillah……. Medan scrambling ini telah kami lewati. Menapak di ketinggian dengan medan lumayan landai memacu adrenalin dengan kobaran semangat yang tak pernah memudar. Jalan membelok kekanan, merunduk bahkan memanjat pada akar-akar pohon Pandan merupakan pengalaman tersendiri yang takkan pernah terhapus dari memori ingatan.
Kaki terus melangkah. Semangat petualangan semakin menggebu, adrenalin semakin memacu seakan menarik ayunan langkah menemukan keindahan di puncak sana. Percikan air dari tumpahan Kantung Semar yang tersenggol carrier turut mewarnai perjalanan kami. Tumpukan lumut merupakan pemandangan unik yang sayang untuk dilewati.
Subhanallah… Betapa Agungnya Wahai Engkau Pencipta. Takjub tak terlukiskan dengan kata-kata. Kiluan kehijau-hiajuan nun jauh menyambut kedatangan kami. Gemulai daun Pandan membingkai indah pemandangan yang luar biasa ini. Balutan kabut tipis yang perlahan menghilang memperjelas pandangan kami. Ternyata disanalah Danau Tingga.
Pukul 12.00 WIB kami menginjakkan kaki di puncak gunung Malintang. Melepaskan carrier dan melemaskan otot-otot jadi hal pertama yang kami lakukan disamping mengagumi apa saja yang kami lihat. Gulai Kacang Panjang campur Ikan Teri yang dihangatkan, ditemani goreng ikan kering menjadi menu paling lezat kami hari ini. Kami beristirahat sejenak dan mengambil beberapa dokumentasi sebelum melanjutkan misi kami yang sebenarnya.
Koordinat tempat kami berdiri telah didapat dengan mudah. Disamping triangulasi (penanda ketinggian), kami menyusun rencana pergerakan untuk menuntaskan jalur menuju Danau Tingga. mengamati medan sekeliling, mempelajarai peta dan menghitung jarak yang akan kami lalui hingga menginjakkan kaki di pinggir Danau Tingga.
Melalui beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk memakai system pendakian Himalaya Style (system base camp). Kami mendirikan tenda serta meninggalkan barang-barang disana. Sementara itu, beberapa orang dari kami dengan berbekal daypack berisi barang-barang seperlunya mulai merintis jalur. Lumayan curam sich. Tapi, metode zigzag bisa kami gunakan untuk mengantisipasi terjalnya medan. Kurang lebih tiga puluh menit membuka jalur, tim memutuskan untuk kembali ke base camp karena Kondisi medan tidak memungkinkan untuk dilalui. Kemiringan yang kami temui mencapai 90°, yang merupakan tebing batu.
Sore menjelang, pancaran keperakan sunset dari lautan Pasaman memberi warna lain disore ini. Nyanyian Jangkrik mengiringi kepergian mentari menuju peraduannya, digantikan oleh rembulan yang bersinar sempurna. Selesai makan malam, kami melajutkan evaluasi pergerakan hari ini serta merencanakan apa yang akan kami lakukan keesokan harinya.
Stretching menghangatkan tubuh yang kaku kala pagi buta (16/02/09) di ketinggian puncak gunung. Memasak sambil menikmati keindahan Danau Tingga yang dihiasi pancaran mentari pagi jadi moment terindah perjalanan kami. Sarapan, packing dan akhirnya kami melanjutkan menuruni jalur utama menuju ketinggian 1836 mdpl. Dari sinilah kami mulai merintis jalur lagi. Namun sayang, medan seperti kemarin kami temukan kembali. Bentukan medan yang digambar garis-garis kontur (garis yang menghubungkan ketinggian yang sama) pada peta Ujung Gading, helai 1125-IV ini tidak begitu rapat. Ini berbeda pada kondisi yang sebenarnya. Mungkin ini disebabkan oleh beberapa hal yang bisa saja terjadi terhadap bumi kita.
Akhirnya perjalanan kami lanjutkan menuju koordinat 719:531 (± 1768 mdpl) yang merupakan camp pengiring XPDC Anggota Muda MAPALA UNAND pada tahun 2007 silam. Dari sinilah pintu masuk menuju Danau tingga kami rintis. Sebagai penanda jalur kami memasang stringtech yang ada tulisan danaunya. Sulit memang meretas jalur yang notabennya di padati oleh tumbuhan Paku Ransam dan Rotan. Tak jarang tubuh tertusuk duri-duri tajam Rotan yang tak mengenal belas kasihan.
Perjalanan kami hari ini berakhir setelah kami menemukan sebuah kawasan yang lumayan nyaman untuk beristirahat. Setelah membersihkan dan meratakan tempat untuk mendirikan tenda, kami membagi tugas yaitu memasak dan mendirikan tenda. Tak lupa kami mengaplikasikan cara membuat api. Kondisi lingkungan camp kami malam ini agak rawan, karena berada di antara beberapa anak sungai. Emang sich tidak mengalir, tapi berdiam di tengah hutan perawan membuat kami harus selalu waspada terhadap kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Perjalanan semakin berat. Hari ini (17/02/09), Rapatnya hutan harus kami lalui dengan bantuan sebilah tramontina (golok). Duri-duri rotan mengingatkan agar selalu berhati-hati. Sedikit saja lengah, duri pada ujung pelepah rotan yang berbentuk kail penangkap Cumi-cumi bisa mengait hidung, telinga dan anggota tubuh lainnya. Bahkan kalau terkena duru-duri tajam pada batangnya bisa tinggal dibawah permukaan kulit.
Melipir dan terus melipir kekanan. Naik turun lembah merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai dan menemukan Danau Tingga. setiap waktu, kami selalu menyempatkan diri untuk menyamakan posisi kami yang sebenarnya dengan peta (resection). Sebagai penuntun jalan, orientasi medan merupakan cara paling efektif yang bisa kami lakukan.
Pacet… Membuat geli tubuh kami. Kami berhenti sejenak sambil membuang makhluk menjijikan ini. Tak disangka, puncak Tanpa Nama nongol didepan mata yang mempermudah kami menemukan hulu atau setidaknya pinggir sungai Malintang Gadang yang akan kami jadikan camp sebelum melanjutkan perjalanan.
Gemuruh air sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Kobaran semangat anggota tim mempercepat pergerakan. Masih melipir kekanan dan menyeberangi sungai yang airnya bersembunyi di balik tanah dan bebatuan. Akhirnya kami menemukan lokasi yang nyaman untuk beristirahat malam ini.
Pergerakan hari ini (18/02/09) agak berbeda dengan hari sebelumnya. Sesuai dengan kesepakatan dan perencanaan pada briefing tadi malam. Kami kembali memakai system base camp. Karena kami memperkirakan pembukaan jalur menuju danau hanya memakan waktu setengah hari. Semua barang-barang yang tidak dibutuhkan selama perjalanan ke danau, kami tinggalkan di tenda. Bergerak dengan bekal secukupnya dengan membawa daypack yang berisikan makanan, snack, teh hangat, sebotol susu, obat-obatan serta sebuah flysheet akan mempercepat pergerakan. Dan, sebilah golok tak pernah lepas dari genggaman kami.
Dari camp kami terus beranjak menuju timur menyusuri punggungan tipis hingga penghujung hulu sungai Malintang Gadang. Kemudian berbelok agak ke selatan dan naik kesebuah punggungan yang lumayan lebar. Berulang kami melalukan resection (menentukan pososi pada peta) agar perjalanan kami sesuai dengan setting-an awal. Beberapa kali berpindah punggungan dengan vegetasi yang didominasi oleh paku ransam dan tumbuhan arbei hutan, hingga kami mentok di bawah tebing terjal yang berdasarkan bantuan peta memperlihatkan kerapatan garis kontur menunjukkan bahwa kami berada tepat di bawah puncak Malintang. Ini membuktikan bahwa perjalanan kami sudah semakin dekat.
Berjalan memutar dengan tebing terjal disebelah kanan terasa jauh dan melelahkan. Menyusuri rimbunnya pepohonan dan selalu berpedoman pada peta dengan bantuan kompas kami terus melangkah. Hingga kami memutuskan istirahat sejenak, sekadar mengisi perut yang sudah keroncongan dengan sebungkus roti dan susu yang sudan dingin.
Mengalahkan ganasnya duri-duri rotan yang kembali padat. Kami mengambil jalan naik pada tempat yang tidak terlalu curam. Jalur yang kami buat selalu diarahkan kekiri. Ketika salah seorang anggota tim terjerembat dan jatuh menimpa sebatang pohon rotan yang berduri rapat. Mata terpana, terlihat kilauan kehijau-hijauan dengan pancaran cahaya mentari menyilaukan mata. Ternyata itulah Danau Tingga yang kami cari.
Danau terlihat seperti sebuah baskom besar. Tampak dekat dan mudah di sentuh. Namun, takkan sampai karena dilindungi oleh pinggiaran yang terjal. Jalan satu-satunya kami harus merintis jalur dan mencari medan yang memungkinkan agar bisa turun. Menuruni pinggiran terjal mangharuskan kami untuk ekstra hati-hati. Setiap injakan harus jadi perhitungan. Di perjalanan turun ini kami temukan sebuah tebing batu seperti bekas air terjun yang kami perkirakan dialiri air saat musim hujan tiba. Disinilah sabuk kehati-hatian harus terpasang erat. Berpijak pada tanah yang rapuh, dan tak jarang batu-batuan juga ikut turun bersama kami.
Pinggiran danau masih belum kami temukan. Setelah menuruni bukit terjal ini, kami menemukan permukaan landai dengan sebuah sungai berair jernih yang mengalir deras. Bau belerang (sulfur) menyengat membuat kami penasaran. Adakah kawah di dekat sini?
Kami mengikuti aliran sungai yang pasti akan bermuara pada danau. Namun, sungai mengalir kearah barat. Tapi tempat yang akan kami singgahi dan mempunyai bibir pantai pada koordinat 732:526 berada di selatan. Akhirnya kami memutuskan untuk berbelok ke selatan. Ditengah perjalan kami menemukan jejak binatang yang memperlihatkan jejak binatang mamalia seperti Kijang dan Rusa. Hal ini semakin memompa semangat kami. Menurut ilmu penaksiran, binatang akan selalu mencari sumber air.
Bau belerang semakin menyesakkan dada, ketika kami menemukan titik koordinat yang kami cari. Kami masih harus merombak padatnya rumput ilalang dan kokohnya pagar paku ransam yang melindungi bibir danau.
Subhanallah…. Kalimat pujian tak henti-hentinya terlontar dari mulut kami. Sujud syukur memuji kebesaran tuhan. Ternyata, bau belerang itu berasal dari air danau yang warna hijaunya semakin jelas terlihat. Namun, bibir pantai yang indah belum kami temukan. Kami terus menyusuri pinggiran danau hingga koordinat 732;527.
Semakin dekat kami kepinggiran danau, ketakjuban semakin kami rasakan. Emang sich,,, ketinggian pinggiran danau sekitar 3-4 meter. namun dengan jelas kami melihat kondisi danau. Gelembung seperti air mendidih memperkuat dugaan kami bahwa kawah itu adalah danau ini. Kawah danau terbesar dengan luas ± 1.5 km pada ketinggian yang pernah kami dengar dan kami baca. Melihat kondisi ini, kami memutuskan untuk kembali pada titik semula yang lumayan dekat dengan danau. Awanya kami merencanakan Cuma mengambil dokumentasi secukupnya. Disamping kondisi medan yang terlalu terjal untuk turun ke danau. Cuacapun kurang bersahabat dengan tetesan hujan membawa kabut tebal seakan kurang senang menerima kehadiran kami disini.
Saking penasarannya, salah seorang anggota tim menambatkan webbing yang telah disambung pada sebatang pohon dan perlahan menuruni pinggiran terjal danau. Membawa kami menyentuh, menginjak dan menguak misteri Danau Tingga. Serta mengabadikan pengalaman ini dalam memori kamera yang kami bawa.
Analisa terus dilakukan. Berbagai pengamatan kami lakukan untuk mengetahui apa-apa saja yang patut kami ketahui. Disini kami tau bahwa, pancaran hijau dari danau ini berasal dari zat hijau yang dikandung pasir-pasir dalam danau. Nun jauh terlihat bekas longsor yang menyisakan tanah berwarna merah. Dan prediksi kami, danau ini merupakan kawah dari tiga puncak yang mengelilinginya yaitu puncak Malintang (1983.3 Mdpl), puncak Bendera (1875 Mdpl) dan puncak Tanpa Nama (1994 Mdpl).
Hari beranjak sore. Puas menikmati pesona Danau Tingga, tak terasa jam dipergelangan tangan menujukkan pukul 15.10 WIB. Kami harus kembali, butuhkan waktu tiga jam perjalanan untuk sampai di base camp alias tempat tenda dan perlengkapan kami lainnya berada. Kami harus menghabiskan waktu semalam lagi di camp yang tidak terlalu nyaman ini.
Pergerakan kami hari ini tiga puluh menit lebih awal dari hari sebelumnya. Pukul 17.00 wib kami tiba di desa Robajulu dengan sambutan hangat dari Pak Syukur dan keluarga serta masyarakat yang ingin tau tentang keberhasilan kami menemukan Danau Tingga. Berbagai pertanyaan muncul, yang kami jawab dengan senyum mengembang serta bangga.
Mengingat sudah seminggu meninggalkan bangku kuliah. kami harus kembali ke padang malam ini, mengejar ketertinggalan selama meninggalkan kampus UNAND tercinta. Selamat tinggal desa kecil nan damai, terima kasih Pak Syukur dan masyarakat desa. Jangan bosan menerima kehadiran kami yang akan selalu datang kapan saja… Iis Suryani (MU 189 Crl.)
Sumber : Mapala Unand, Ekspedisi Kedua Danau Tingga






0 komentar:
Posting Komentar